banjir

Banjir Melanda Indonesia (III)

OPINI | 26 January 2011 | 06:142404 4  1 dari 2 Kompasianer menilai Bermanfaat


Arikel ini adalah artikel ke tiga atau terakhir tentang bencana banjir di Indonesia, yang terjadi seluruh 33 Provinsi di Indonesia. Sekedar untuk saling mengingatkan betapa banyaknya korban jiwa, harta benda serta sarana dan prasarana bagi masyarakat. Sebelumnya saya juga telah menulis tentang Banjir Melanda Dunia.

Banjir adalah peristiwa terbenamnya daratan oleh air.Peristiwa banjir timbul jika air menggenangidaratan yang biasanya kering. Banjir pada umumnya disebabkan oleh air sungai yang meluap ke lingkungan sekitarnya sebagai akibat curah hujan yang tinggi.Kekuatan banjir mampu merusak rumahdan menyapu fondasinya.Air banjir juga membawa lumpur berbau yang dapat menutup segalanya setelah air surut.Banjir adalah hal yang rutin.Setiap tahun pasti datang. Banjir, sebenarnya merupakanfenomena kejadian alam “biasa” yang sering terjadi dan dihadapi hampir di seluruh negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Banjir sudah temasuk dalam urutan bencana besar, karena meminta korbanbesar.

Di Indonesia kerap sekali terjadi bencana alam. Salah satunya adalah bencana banjir yang sering terjadi. Lihat saja banjir bandang yang banyak terjadi karena sungai tiba-tiba meluap atau contohlah di jakarta yang kebanyakan banjir terjadi karena ulah manusia sendiri.

Penyebab Banjir

Penyebab banjir sendiri menurut Wikipedia, bisa terjadi karena berbagai hal baik alam maupun manusia.Dan berikut adalah hal-hal yang menyebabkan banjir di seluruh dunia termasuk Indonesia :

    • Peristiwa alam seperti Curah hujan dalam jangka waktu yang lama.

 

    • Terjadinya erosi tanah hingga hanya menyisakan batuan, dan tidak ada resapan air. bahkan bukan hanya banjir tapi juga tanah longsor

 

    • Buruknya penanganan sampah, hingga kemudian sumber saluran air tersumbat.

 

    • Bendungan dan saluran air rusak. Seperti yang terjadi pada bencana di situ gintung

 

    • Penebangan hutan secara liar dan tidak terkendali.

 

    • Di daerah bebatuan daya serap air sangat kurang. Sehingga memudahkan terjadi bencana banjir

 

    • Kiriman atau bencana banjir bandang.

 

    • Keadaan tanah tertutup semen, paving atau aspal, hingga tidak menyerap air.

 

  • Pembangunan tempat permukiman dimana tanah kosong diubah menjadi jalan gedung, tempat parkir, hingga daya serap air hujan tidak ada. Contohlah kota-kota besar semacam jakarta yang sering terjadi bencana banjir.

Tapi secara umum, Dr. Peter Karl Bart Assa, ST., MSc, Staf Pengajar Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, menyebutkan tiga factor penyebab banjir secara yaitu:

Faktor Alamiah

Dr. Peter Karl Bart Assa, ST., MSc, Staf Pengajar Fakultas Teknik Unsrat Manado

 

  • Hampir semua literatur yang menulis tentang banjir, mengemukakan bahwa banjir disebabkan oleh bermacam-macam faktor, baik alamiah maupun akibat perbuatan manusia. Dikatakan alamiah bilamana sumber penyebab antara lain adalah intensitas curah hujan yang sangat tinggi berlangsung, sebagai bagian dari siklus hidrologi. Siklus hidrologi adalah suatu siklus yang diawali dengan menguapnya air dari lautan menuju atmosfer dan jatuh kembali ke bumi sebagai hujan. Air itu, kemudian sebagiannya melimpasi permukaan dan sebagian lainnya diserap oleh tanah untuk beberapa waktu yang pada akhirnya mengalir masuk ke laut. Meskipun siklus hidrologi adalah suatu fenomena yang konstan, tetapi tidak selalu akan terjadi di tempat yang sama, dari tahun demi tahun. Jika terjadi secara konsisten di semua tempat, maka tidak akan pernah terjadi banjir dan kekeringan akibat siklus ini. Dengan demikian, di beberapa tempat mengalami curah hujan di atas rata-rata, sementara di tempat lain justru terjadi kekeringan.
  • Dengan temuan dan penelitian terbaru dalam bidang klimatologi, yang menyatakan perubahan iklim akibat pemanasan bumi sementara berlangsung, menyebabkan lamanya waktu siklus hidrologi dan di mana tempat kejadiannya menjadi semakin tidak menentu. Sehingga musim hujan dan kemarau di Indonesia menjadi sulit ditebak kapan datangnya. Kadang-kadang, banjir juga dapat terjadi sebagai akibat dari kombinasi unik faktor-faktor yang tidak secara langsung melibatkan siklus hidrologi. Misalnya, wilayah pesisir dataran rendah akan mudah ditimpa banjir pada setiap kali air laut pasang, atau karena terjadi badai maupun tsunami.

Faktor Masyarakat

  • Dari penjelasan faktor penyebab alamiah di atas, memberi pengertian bahwa sebetulnya banjir alamiah, meskipun kadangkala muncul sebagai bencana merupakan suatu fenomena alam biasa. Tetapi bilamana kejadiannya berulang secara terus menerus, dengan waktu antara satu kejadian dengan kejadian berikutnya lebih pendek dari waktu dalam siklus atau periode ulangnya, sebagaimana apa yang terjadi di kota Manado, maka hal itu sudah merupakan kejadian luar biasa yang memerlukan perhatian serius.
  • Data mengungkap bahwa dalam kurun waktu sepuluh tahun sedikitnya telah terjadi 3(tiga) kali banjir yang menyebabkan kerugian besar di kota Manado, yaitu pada tahun 1996, 2000 dan 2005 (Nanlohy et.al, 2008). Bahkan tahun inipun banjir kembali menerpa kota. Hal ini berarti, bahwa telah terjadi sesuatu yang menyimpang terhadap perilaku banjir di kota Manado, yang bukan lagi diakibatkan oleh faktor alamiah semata, tetapi besar kemungkinan dipengaruhi oleh faktor masyarakat.
  • Masyarakat adalah bagian dari lingkungan itu sendiri, sehingga segala proses yang terjadi di alam, walaupun tidak pada semua kejadian, tidak lepas dari peran masyarakat di dalamnya. Dalam soal banjir, meskipun masyarakat kota sendiri yang menjadi korban, masih banyak yang belum sepenuhnya menyadari bahwa karena peran mereka jugalah yang menyebabkan seringnya banjir terjadi di kota Manado.
  • Beberapa hal berikut merupakan contoh. Keberadaan hunian sebagian masyarakat yang masih menempati daerah sempadan sungai, dan tindakan melebarkan halaman ke arah badan sungai sehingga mempersempit daerah penguasaan sungai.  Sementara itu, disadari benar pula bahwa vegetasi sangat membantu untuk menahan curah hujan langsung jatuh ke tanah, namun praktek-praktek penggunaan lahan yang melanggar aturan seperti kegiatan dalam usaha pertanian, peternakan, dan penebangan hutan tanpa ijin dan terkontrol telah menghambat proses tersebut. Tanpa pertumbuhan alami vegetasi untuk menahan hujan dan limpasan airnya, sama artinya memaksa tanah menyerap kelembaban secara berlebihan, sehingga ketika batas penyerapan cepat tercapai dan hujan belum berhenti maka banjir akan terjadi. Bilamana keadaan tersebut terjadi di daerah hulu, maka yang menerima akibat terbesar dari kejadian banjir adalah daerah di bagian hilir. Banjir ini sering disebut sebagai banjir bandang, bila waktu datangnya terjadi secara cepat, atau banjir kiriman. Demikian juga, seiring dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi, maka perluasan lahan permukiman menjadi sebuah tuntutan yang harus dipenuhi, namun sebaliknya bila hal ini dilakukan secara tidak bertanggung jawab atau melanggar ketentuan tata ruang maka dapat memperparah efek banjir.
  • Faktor penyebab lain yang juga sangat penting diperhatikan adalah “bad habits” atau kebiasaan buruk masyarakat dalam membuang sampah di air yang mengalir, saluran air, sungai dan badan air lainnya. Kejadian yang paling sering terjadi, yang boleh dikatakan sudah di luar batas perilaku rasional, adalah kebiasaan untuk tidak mengumpulkan sampah dari warga kota yang tinggal di tepi sungai, bahkan dengan sadar langsung membuangnya ke sungai meskipun petugas sampah secara rutin datang mengangkut sampah sampai di depan rumah penduduk. Perilaku ini bahkan dilakukan tidak saja oleh lapisan masyarakat tertentu, tetapi juga oleh kalangan terpelajar, kalangan yang seharusnya memberi contoh dan teladan. Faktor penyebab seperti ini dalam pengalaman sulit direduksi karena sudah membudaya. Oleh karena itu upaya penyuluhan yang tidak kenal putus asa harus tetap dilakukan berbagai pihak, disamping perlunya penerapan penegakkan hukum yang lebih tegas.

Faktor Mismanagement

  • Maksud kata mismanagement di sini adalah careless or inefficient management, yaitu kurang tanggap atau ketidaktepatan, dan kurang efisiennya pengelolaan sistem pengendalian banjir yang ada. Ketidaktepatan pengelolaan berkaitan erat dengan mekanisme pengambilan keputusan di dalam menetapkan anggaran pembangunan. Sebagai contoh banyak hasil perencaaan sistem pengendali banjir oleh konsultan tidak dapat dikerjakan. Alasan yang sering dikemukakan oleh pihak pemberi kerja adalah karena keterbatasan dana.
  • Kalau pun hasil perencanaan tersebut dikerjakan, proses perencanaannya terkesan terpimpin. Artinya merencanakan berdasarkan arahan direksi, bukan berdasarkan ide perencana. Sehingga tidak heran banyak bangunan yang mubasir bahkan turut menyumbang semakin parahnya kejadian banjir. Selanjutnya, kurang efisiennya pelaksanaan pengelolaan banjir sebagaimana dimaksud di atas antara lain dapat dilihat dari masih parsialnya penerapan sistem untuk memecahkan masalah banjir sungai. Sebagai contoh penanggulangan masalah banjir sungai Tondano, yang sebaiknya dilakukan dengan mekanisme ORPIM atau One River, One Plan, and One Integrated Management.
  • Pada prakteknya masih dilaksanakan secara terpisah atau parsial oleh masing-masing pemangku kepentingan di setiap daerah yang dilalui sungai tersebut. Akibatnya sering terjadi di sana sini, disepanjang wilayah sungai, suatu diskonstruksi bangunan pengendali banjir, di mana bangunannya saja yang kelihatan megah tetapi pada saat banjir bandang datang bangunan tersebut justru menjadi penyebab kerusakan yang lebih besar, bahkan bangunan itu sendiri menjadi rusak. Akhirnya, dana besar yang telah dikeluarkan pun menjadi menjadi sia-sia.

Evaluasi Bencana 2010 di Indonesia oleh BNBP

Badan Nasional Penaggulangan Bencana (BNBP), dalam evaluasai akhir tahun 2010 menyatakan bahwa, trend bencana di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Bencana hidrometeorologi seperti banjir, kekeringan, tanah longsor, puting beliung dan gelombang pasang merupakan jenis bencana yang dominan di Indonesia. Bencana hidrometeorologi terjadi rata-rata hampir 70% dari total bencana di Indonesia. Perubahan iklim global, perubahan penggunaan lahan dan meningkatnya jumlah penduduk makin memperbesar ancaman risiko bencana di Indosnesia. Bencana tersebut telah menimbulkan korban jiwa dan kerugian yang besar.

Pada tahun 2010, bencana di Indonesia terjadi sekitar 644 kejadian bencana. Jumlah orang meninggal mencapai 1.711. Menderita dan hilang sekitar 1.398.923 orang. Rumah rusak berat 14.639 unit, rusak sedang 2.830 unit dan rusak ringan 25.030. Dari 644 kejadian bencana tersebut, sekitar 81,5% atau 517 kejadian bencana adalah bencana hidrometerologi. Sedangkan bencana geologi seperti gempabumi, tsunami dan gunung meletus masing-masing terjadi  13 kali (2%),  1 kali (0,2%) dan 3 kali (0,5%). Namun jumlah kerugian yang ditimbulkan oleh bencana geologi tersebut besar.

Dibandingkan dengan tahun 2009, jumlah kejadian dan korban serta kerugian yang ditimbulkan bencana lebih kecil pada tahun 2009. Pada tahun 2009, jumlah kejadian bencana mencapai 1.675 kejadian. Jumlah korban meninggal mencapai 2.620 orang, menderita dan mengungsi sekitar 5,5 juta orang dan menimbulkan kerusakan rumah mencapai lebih dari 500 ribu unit. Pada tahun 2009 bencana gempabumi di Jawa Barat dan Sumatera Barat adalah bencana terbesar pada tahun tersebut.

Pada tahun 2010, bencana besar yang terjadi di Indonesia antara lain: Tanah longsor di Ciwidey Jawa Barat pada 22 Februari 2010 yang mengakibatkan 44 orang meninggal. Banjir di hulu dan hilir Sungai Citarum Jawa Barat pada Maret 2010 yang menyebabkan sekitar  105 ribu lebih orang mengungsi. Banjir bandang Wasior pada 5 Oktober 2010 dengan korban 291 orang meninggal. Gempabumi dan tsunami di Mentawai dengan korban 509 orang meninggal, dan letusan gunungapi Merapi di Jawa Tengah dan Yogyakarta menyebabkan 386 orang meninggal.

Ditinjau dari  sebaran kejadian bencana, maka Kabupaten Bojonegenoro, Cilacap, Kota Samarinda, Bandung dan Pasir adalah kabupaten yang memiliki jumlah kejadian bencana terbanyak di Indonesia. Sedangkan dari sebaran jumlah korban orang meninggal, maka kabupaten Mentawai, Teluk Wondamam Sleman, Magelang, Bandung dan Klaten adalah wilayah yang memiliki jumlah koran terbanyak di Indonesia akibat bencana.

Kerugian yang ditimbulkan oleh bencana selama tahun 2010 cukup besar. Beberapa kerugian dan kerusakan akibat bencana yang sudah dihitung dengan menggunakan metode Damage and Lossess Assessment oleh BNPB dan Bappenas menunjukkan kerugian yang cukup besar. Kerugian dan kerusakan bencana banjir bandang Wasior mencapai Rp 208,6 miliar, Mentawai Rp 315 miliar dan Merapi lebih dari Rp 4,1 trilyun. Total kerugian dan kerusakan akibat bencana dari 644 kejadian di Indonesia diperkirakan lebih dari Rp 15 trilyun rupiah.

Kebutuhan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi serta percepatan pemulihan ekonomi dari bencana memerlukan dana yang sangat besar. Untuk Wasior kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi mencapai Rp 370,4 miliar. Sedangkan untuk kebutuhan percepatan pemulihan ekonomi mencapai Rp 600 miliar sehingga diperkirakan kebutuhan totalnya sekitar Rp 1 trilyun. Demikian pula dengan Mentawai, kebutuhan rehab rekon mencapai Rp 368,3 miliar. Untuk Merapi, kebutuhannya lebih besar daripada bencana lain yang terjadi selama 2010. Saat ini kebutuhan tersebut baru dihitung dengan metode Human Needs Recovery Assessment.

Pemerintah telah menganggarkan Rp 4 trilyun dalam DIPA 2011 untuk dana bantuan sosial penanggulangan bencana. Dana tersebut digunakan untuk mengcover seluruh bencana di Indonesia sehingga kurang dibandingkan dengan kebutuhan yang ada. Untuk itulah maka rehab rekon Wasior, Mentawai dan Merapi diperkirakan selesai hingga tahun 2013.

Prediksi Bencana di Indonesia Tahun 2011

 

Bencana hidrometerologi khususnya banjir, banjir bandang, tanah longsor dan puting beliung akan makin meningkat di tahun 2011. Hal ini disebabkan oleh adanya anomali cuaca, dimana berdasarkan prakiraan dari berbagai lembaga meteorologi terkemuka dunia seperti NOAA, Jamstec, BoM dan BMKG menyimpulkan bahwa curah hujan di Indonesia akan terjadi di atas normal hingga Maret 2011. Indikasi dari menguatnya La Nina, Dipole Mode dan kenaikan suhu muka air laut di perairan Indonesia menyebabkan suplai massa uap air di atmosfer berlimpah sehingga hujan akan di atas normal.

Untuk bencana geologi, khususnya gempabumi, tsunami dan gunung meletus belum dapat diprediksikan secara pasti. Kemampuan iptek saat ini belum dapat memprediksikan secara tepat kapan, berapa besar dan dimana kejadian gempa dan  tsunami akan terjadi. Namun demikian kesiapsiagaan harus terus ditingkatkan karena wilayah Indonesia rawan terhadap gempa dan tsunami. Di Indonesia kabupaten/kota yang memiliki risiko tinggi gempabumi sebanyak 184 kab/kota. Sedangkan tsunami 150 kab/kota, letusan gunungapi 78 kab/kota, banjir, 176 kab/kota, dan tanah longsor 154 kab/kota. 1 dari 3 desa di Indonesia rawan terhadap bencana dari total sekitar 73 ribu desa di Indonesia.

Upaya Penanggulangan Bencana 2011

Oleh karena itu upaya penanggulangan bencana di Indonesia harus terus ditingkatkan. Pada tahun 2011 beberapa kegiatan yang berkaitan dengan penanggulangan bencana antara lain:

1.     Penyelesaian rehab rekon untuk Wasior, Mentawai dan Merapi

2.     Penyelenggaraan Asean Regional Forum Disaster Relief Exercise (ARF-DiReX 2011) di Menado pada 13-18 Maret 2011. Kegiatan latihan penanggulangan bencana tersebut diikiti oleh 27 negara dengan melibatkan peserta sekitar 10 ribu dengan berbagai peralatan seperti helicopter, pesawat terbang, kapal, mobil recue dan sebagainya.

3.     Penyusunan peta risiko bencana nasional di tingkat provinsi. Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi akan dipetakan risiko bencana dengan basis peta dasar 1:50.000. Jawa, Bali dan Nusa Tenggara dengan skala 1: 25.000 dan lainnya 1:100.000. Indonesia akan menjadi negara pertama di dunia yang memiliki peta risiko hingga tingkat kedetilan seperti tersebut dan hal ini disampaikan oleh UN-ISDR (United Nation the International Strategic for Disaster Reduction)

4.     Penyusunan rencana penanggulangan bencana daerah di tingkat provinsi untuk 33 provinsi.

5.     Peningkatan kesiapsiagaan pemerintah, swasta dan masyarakat.

6.     Sertifikasi relawan dengan target 10 ribu relawan pada tahun 2011.

7.     Peningkatan pengurangan risiko bencana melalui program-program nasional di kementerian, lembaga dan komunitas.

8.     Peningkatan kapasitas bagi BPBD di daerah.

http://green.kompasiana.com/iklim/2011/01/26/banjir-melanda-indonesia-iii/

pendapat : banjir, adalah masalah pelik di kehidupan masyarakat. tergenangnya daratan oleh air disebut banjir. banjir bisa diatasi dengan membuka taman hijau sebagai tempat menyerapnya air hujan.. dan tidak membangun rumah rumah di pnggir sungai.

Tentang zaenurisofyan

this is my life this is my rules
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s