EKSPLOITASI ANAK

 

Anak Bukan Objek Eksploitasi

 

Anak adalah seorang laki-laki atau perempuan yang belum dewasa. Dalam hal ini, secara dewasa berpatokan pada masa pubertas. Jadi seseorang disebut sebagai anak apabila belum memasuki masa pubertas.

Pengertian tersebut diartikan secara harafiah, namun dalam sudut pandang yang berbeda makna kata “anak” dapat berarti berbeda pula. Misalkan, bagi orang tua, anak adalah buah hati, hasil dari buah cinta kedua orang tua. Dan masih banyak lagi pandangan yang lain.

Bagi sebagian orang, keberadaan anak di tengah keluarga merupakan hal yang sangat membahagiakan, akan tetapi ada pula yang berpandangan bahwa anak hanya membawa masalah, terutama berkaitan dengan ekonomi. Itu terbukti dengan banyaknya kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi belakangan ini.

KOMNASPA sebagai salah satu lembaga yang fokus mengenai kasus-kasus kekerasan terhadap anak selalu kebanjiran laporan. Ini juga dapat dijadikan bukti bahwa banyak anak Indonesia mengalami tindak kekerasan. 

Lalu bagaimana seharusnya kita memperlakukan anak kita? Yang harus kita ketahui bersama adalah bahwa anak merupakan hasil buah cinta kasih kita. Dengan adanya anak, berarti kita telah diberikan kepercayaan untuk mengurusnya sebaik-baiknya. Yang harus kita berikan kepada si anak adalah kebebasan.

Kanak-kanak adalah usia untuk bermain dan menyerap segala sesuatu. Mereka memiliki respon yang hanya cukup untuk menirukan, maka dari itu kita harus mengajarkan sesuatu yang baik kepada mereka. 

Mengeksploitasi anak untuk alasan apapun, apalagi alasan ekonomi adalah tindak kejahatan yang dapat dipidanakan. Menurut Undang-Undang ketenagakerjaan No 13 tahun 2003, pengusaha yang mempekerjakan anak di bawah umur dapat dipidanakan.Akan tetapi, hal tersebut menjadi sesuatu yang ironis.

Di tengah himpitan ekonomi yang semakin menghimpit, banyak anakIndonesia yang turut serta menyangga perekonomian keluarganya dengan cara yang bermacam-macam.

Ada di antara mereka yang hidup di jalan, mencari uang dengan cara mengemis, mengamen, memulung dan lain sebagainya. Ada juga yang bekerja sebagai kuli panggul di pasar-pasar. Ada juga di antaranya yang bekerja di lahan pertambangan, yang kita tahu memiliki resiko yang teramat besar.

Akan tetapi, sepertinya pemerintah tidak dapat berbuat banyak. Setiap kali mereka “ditertibkan”, mereka akan kembali lagi, alasan yang di kemukakan tidak lain adalah ekonomi.

Akan tetapi, jangan kita beranggapan bahwa eksploitasi anak hanya terjadi di lahan yang ”berbahaya dan kotor” seperti tambang, pasar ataupun jalanan. Yang mungkin kurang kita sadari selama ini adalah bahwa eksploitasi anak juga terjadi di dunia yang penuh kemewahan yaitu dunia keartisan.

Banyak artis cilik di negeri ini “dimanfaatkan” oleh orang tuanya untukmendulang rupiah. Meskipun si anak merasa enjoy, akan tetapi bagaimanapun juga mereka tidak mendapatkan porsi yang cukup untuk menikmati masa bermain yang seharusnya mereka dapat.

Hal ini dapat berdampak buruk. Kita dapat mengambil contoh  Michael Jackson. Semenjak kecil dia selalu dididik untuk menjadi seorang “penghibur”, akibatnya dia tidak mendapatkan porsi bermain yang cukup bersama teman-temannya.

Hingga dia dewasa pun, dia dikenal sebagai artis yang sukses dalam  karir namun kurang bergaul. Never Land yang dibangunnya menjadi satu-satunya pelipur yang dia miliki.

Apakah kita sebagai orang tua ingin anak kita mengalami hal yang serupa? Sebagai orang tua, sudah sepantasnyalah apabila kita membanting tulang, bekerja untuk menghidupi keluarga termasuk anak kita.

Biarkan mereka bebas bermain, jangan perkenalkan kepada mereka dunia yang seharusnya belum mereka masuki. Sebenarnya, peran pemerintah dalam hal ini sangatlah besar. Menurut beberapa tokoh dan ahli, apabila pemerintah dapat mensejahterakan bangsa ini, maka eksploitasi anak dapat di kurangi atau bahkan dihilangkan.

Akan tetapi, itu semua berpulang kepada pemerintah kita sendiri, sampai kapan mereka akan berdiam diri melihat tragedi kemanusiaan ini terus terjadi? Marilah kita jaga anak-anak kita, biarkan mereka memilih apa yang mereka inginkan dan berikan mereka waktu bermain yang seharusnya mereka dapat.

 

http://www.anneahira.com/eksploitasi-anak.htm

argument : anak bukan objek eksploitas. Banyak saat ini yang menjadikan anak anak kecil jadi ajang ekplitasi. Perbuatan ini terjadi karena masalah social yang sangat terjepit, yang mengharuskan mereka melakukan perbuatan ini. Masalah ini menjadi problem sosial bagi pemerintah yang harus segera di tangani. Selain pemerintah, keluarga juga berpengaruh dalam mencegah eksploitasi tersebut.

Tentang zaenurisofyan

this is my life this is my rules
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s